Bab 1: Lima Tahun PenantianLima tahun. Lima tahun pernikahan Suami dan Istri terasa seperti lima episode uji kesabaran dalam penantian menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS). Lima tahun pula mereka menghabiskan waktu bersama di rumah sederhana di pinggiran ibu kota provinsi.
Suami, dengan kegigihan seorang pejuang, sudah empat kali mencoba peruntungan dalam seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Istri, ibu rumah tangga yang sehari-hari fokus mengurus putri mereka, Ainun, yang kini berusia empat tahun, yang selalu menjadi penghibur dalam rumah tangga mereka. Hasilnya selalu sama: belum rezeki.
"Kali ini, kita coba beda," kata Suami, suatu malam, matanya fokus menatap layar laptop yang menampilkan peta Indonesia. "Ada formasi bagus sekali di ujung Indonesia. Yang dapat ditempuh 3 hari dalam perjalan darat. Aku lihat peluangku besar sekali."
Istri mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Suami. "Sejauh itu, Mas?"
"Iya dek. Tapi ini the last shot kita, mengingat umurku yang hampir 35 tahun. Aku yakin kali ini bisa."
Mereka sepakat. Suami akan mendaftar formasi yang menjanjikan di Ujung Indonesia. Istri, setelah mencari-cari, tidak menemukan formasi yang relevan di sana.
"Ya sudah, aku daftar yang di kota kita saja, Mas," ujar Istri. "Sekadar formalitas. Kan Mas sudah janji, kalau Mas yang lolos, aku dan Ainun pasti ikut, di mana pun Mas ditugaskan. Pekerjaanku yang penting mengurus Mas dan Ainun."
Suami tersenyum lega. Janji itu, janji untuk saling mendukung dan mengutamakan keluarga di atas segalanya, adalah pondasi bagi mereka.
"Aku mengutamakan kamu, Mas. Kalau Mas lolos ke ujung sana, dan aku juga lolos di sini, aku akan mundur sukarela dari CPNS-ku. Kita harus utuh di sana, masa suami istri kok berjauh-jauhan. Tes CPNS-ku hanya untuk 'jaga-jaga' kalau Mas gagal lagi," ucap Istri kala itu, membuat hati Suami menghangat.
Bab 2: NIK dan Drama CPNS
Mereka mulai proses pendaftaran. Suami tidak ada kendala alias lancar-lancar saja. Namun, Istri terhambat dalam proses pendaftaran.
"Mas, NIK-ku tidak terdeteksi!" seru Istri panik.
Ternyata, ada masalah administrasi saat perpindahan alamat KTP Istri dari rumah orang tuanya ke alamat rumah mereka sekarang. NIK-nya belum terintegrasi sempurna dalam sistem data kependudukan.
Istri sudah pasrah, "Ya sudah, berarti memang tidak jodoh, Mas."
Tetapi Suami tidak mau menyerah. "Tidak bisa! Kamu sudah susah-susah menyiapkan berkas. Tunggu, aku urus ini."
Suami mengambil waktu untuk pengurusan ini. Ia menghubungi kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), menghubungi kenalan, bahkan sampai mencari tahu jalur online yang bisa mempercepat pembaruan data. Butuh dua hari penuh perjuangan, bolak-balik menelepon, dan menunggu.
"Alhamdulillah, dek. NIK-mu sudah bisa dipakai! Cepat submit!"
Istri kegirangan. Mereka akhirnya bisa menyelesaikan pendaftaran, impian itu kembali menyala, diperjuangkan bersama oleh Suami.
Hingga mereka telah melewati Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Dari hasil SKD, Istri sangat percaya diri jika dirinya akan lolos ke tahap selanjutnya, mengingat sebelum menikah, Istri pernah menjadi karyawan kontran di instansi yang dia tuju.
Istri terbilang cukup sering ke rumah keluarganya, dalam seminggu, bisa 2 kali atau 3 kali berkunjung ke rumah keluarganya.
Hingga suatu hari Suami pulang dari kerja, suami menjemput istri dan Ainun di rumah keluarga Istri. Sebelum pulang, seperti biasa, ada perbincangan di teras antara mereka.
"Mas, kata ummi (ibu Istri), orang-orang di Ujung Indonesia itu rasis-rasis"
Mendengar itu, suami hanya tersenyum tipis. Hingga pulang sampai di rumah mereka, suami mengkonfirmasi perihal ucapan ummi (ibu Istri).
"Apa maksud ummi berkata seperti itu?"
Dengan emosi, Istri menyampaikan pembelaannya kepada ummi nya hingga berujung perang argumen. Namun, hal itu berangsur reda dengan cepat. Suami pun tidak memiliki firasat buruk apapun terhadap Istri.
Kurang lebih 2 bulan berjalan, mereka mengikuti tes lanjutan yaitu Seleksi Kompetensi Bidang.
Bab 3: Pengumuman yang Memicu Badai
Minggu demi minggu berlalu, dibalut dengan rutinitas harian. Suami tidak pernah absen mengecek portal pengumuman CPNS, bukan hanya untuk formasi dirinya, tetapi juga untuk formasi Istrinya di kota mereka.
Suatu sore, saat Suami sedang menyeduh kopi, matanya terpaku pada layar.
"Dek! Lihat ini!"
Istri berlari dari dapur. "Ada apa, Mas?"
"Kamu... kamu lolos! Kamu lolos seleksi akhir CPNS!"
Wajah Rina memerah, matanya berkaca-kaca, memancarkan kegembiraan murni. "Ya Allah, Mas! Lolos? Aku lolos?". Bagi Suami, kelolosan Istri adalah kabar gembira, meski ia tahu Istri akan segera mengundurkan diri sesuai janji.
Namun, pengumuman Suami tak kunjung tiba.
"Sabar, Mas. Giliran Mas pasti datang," hibur Istri, kini berstatus 'calon PNS' di kota tempat mereka tinggal.
Dan hari itu pun tiba. Pengumuman CPNS formasi Suami diumumkan. Nama Suami terpampang jelas. Lolos!
"Kita berhasil! Aku lolos! Oh ujung Indonesia, kita datang!" Hatinya penuh dengan rencana masa depan.
Suami mulai mempersiapkan segalanya. Informasi kontrakan di Ujung Indonesia, perjalanan ke sana. Semuanya Suami pelajari dengan semangat. Mereka akan memulai hidup baru, keluarga kecilnya akan utuh di ujung Indonesia.
Bab 4: Konspirasi di Balik Senyum
Di balik senyum Istri, ternyata ada angin dingin berembus. Keluarga besar Istri, terutama orang tuanya, mulai melancarkan intervensi. Yang sebenarnya, jika Suami Peka, sejak kelolosan tes Seleksi Kompetensi Dasar Istri, sudah ada tanda-tandanya. Namun, begitulah, pikiran prasangka baik memang sangat tipis dengan sebuah kebodohan.
"Buat apa ikut sejauh itu? Gaji PNS di sini sudah cukup. Kamu bisa mandiri, Nak. Jangan cuma jadi bayang-bayang suami. Kariermu lebih penting!" desak ibunya saat Istri berada di rumah Ibunya.
Istri mulai bimbang. Janjinya mulai pudar tertutup ambisi yang dihembuskan keluarganya.
Suatu hari, Istri mengajak Suami menemui seorang Ustaz yang dikenalnya.
"Ustaz, bagaimana hukumnya jika seorang istri tidak ikut suami yang pindah tugas jauh karena alasan karier yang baru didapat?" tanya Istri, nadanya terdengar polos, tetapi matanya menghindari tatapan Suami.
Ustaz tersebut, setelah mendengarkan sekilas, memberikan jawaban yang netral.
Pulang dari sana, Istri mulai berani berpendapat.
"Mas, aku sudah lolos CPNS di sini. Aku akan tetap ambil formasi ini. Aku tidak bisa ikut ke Ujung Indonesia," ujar Istri, kalimat itu dingin menampar wajah Suami.
Suami terkejut, amarahnya tertahan di ujung tenggorokan. "Dek, apa maksudmu? Kita sudah sepakat! Anak dan istri adalah tanggung jawabku. Kamu akan ikut. Janjimu bagaimana? Kamu bilang ini hanya untuk berjaga-jaga!"
"Kondisinya berubah, Mas. Aku lolos! Lagipula, siapa yang akan mengurus orang tuaku di sini? Aku bisa mandiri, Mas."
"Mandiri? Sejauh ini aku yang urus NIK-mu agar kamu bisa daftar! Mandiri itu bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Aku tidak merestui kamu jika kamu tidak ikut aku ke Ujung Indonesia!" tegas Suami, matanya memancarkan kekecewaan mendalam.
Bab 5: Pengkhianatan di Layar Gawai
Malam-malam berikutnya dilalui dalam ketegangan yang mencekik. Mereka tidur di ranjang yang sama, tetapi terpisah oleh jurang pengkhianatan.
Di Sore hari, Istri sedang di dapur bersama Ainun. Ponselnya berbunyi, notifikasi dari chat keluarga. Entah dorongan apa, Suami mengambil ponsel itu.
Jantungnya seakan berhenti berdetak saat membaca percakapan itu.
***
Jika dinovelkan kurang lebihnya percakapannya sebagai berikut:
Adik Ipar: Pokoknya besok langsung urus pemberkasan ya, Kak. Jangan dengarkan si Suamimu itu! Kakak itu berhak bahagia dan punya karier sendiri.
Istri: Iya, besok aku izin ke Mas Suami urus berkas, aku siapkan semuanya. Aku sudah bilang ke Ibu, aku tidak akan ikut Suami. Biar saja dia sendirian di sana. Gaji PNS-ku pasti cukup. Surat pengunduran diri itu tidak ada di kamusku.
Ibu Mertua: Bagus, Nak. Jadi kamu harus mengutamakan dirimu. Kami sudah siapkan skenarionya.
***
Suami merasakan mual. Skema jahat. Kebohongan yang tersusun rapi. Ia yang mati-matian memperjuangkan pendaftaran Istri, kini dikhianati dan difitnah.
Keesokan harinya, Suami menemui Ustaz Fulan yang sempat mereka datangi.
"Ustaz, saya datang untuk curhat. Istri saya lolos CPNS di sini, sementara saya lolos di Ujung Indonesia. Dia tidak mau ikut, padahal kami sudah janji... Andai Istri tidak lolos, pasti akan ikut, sungguh licik"
"Kemarin saat bersama-sama datang, sebenarnya hanya bentuk legitimasi Istrimu" kata ustaz.
---
Bab 6: Koper dan Rumah yang Hampa
Istri berpamitan dengan senyum manis yang dipaksakan. "Mas, aku izin ke rumah Ibu dulu, ya. Mau urus berkas CPNS-ku."
Suami berinisiatif menelfon ibu kandungnya, untuk membujuk Istri, agar tidak meninggalkan rumah. Ada sebuah percakapan, namun tidak menggugurkan niat Istri pergi dari rumah.
Tidak berselang lama, adik istri datang untuk menjemput. Suami tidak dapat menghalangi, karena karakter istri yang jika memiliki keinginan, tidak dapat digoyahkan.
Ainun, yang masih berumur empat tahun, berlarian dan menuju ke dalam mobil. Sang anak justru riang gembira dengan polosnya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Suami terlantar sendirian.
Rumah itu terasa sunyi, dingin, dan hampa dalam sekejap.
Esok harinya, Suami masuk ke kamar. Ia menyiapkan berkas-berkas penting yang harus ia bawa ke Ujung Indonesia. Ternyata berkas-berkas penting seperti buku nikah, dan barang-barang berharga lainnya ikut diangkut oleh Istri.
Suami tersadar. Istri tidak hanya membawa ambisinya. Ia membawa pergi dokumen-dokumen penting pernikahan mereka. Istri telah merencanakan ini semua, tidak hanya mengkhianati janji, tetapi juga mengosongkan rumah dan membawa pergi bukti sah ikatan mereka.
Di rumah yang kini sepi, Suami hanya bisa duduk di tepi ranjang. Suara tawa Ainun yang masih terngiang, dan janji Istri yang kini terasa seperti racun. Sang suami yang akan berjuang di ujung Indonesia, kini benar-benar terlantar, ditinggalkan oleh istri yang ingkar janji dan anak yang dibawa pergi Istri.