ALLAH TIDAK PERNAH MENGUJI KITA

Allah Tidak Pernah Menguji Kita, Melainkan Sesuatu yang Kita Anggap Ujian adalah Sebuah Nikmat yang Belum Terlihat. (Mahmud Basuki)

KOMENTAR

Komentar Anda Secara Tidak Disadari Telah Mengomentari Anda. So, Berkomentarlah yang Baik-baik. (Mahmud Basuki)

SEMANGAT BABAT ALAS

Tuntaskan Amanat, Memaksimalkan Prioritas Utama - QS. Al-Anfal: 27

TETAP BERDO'A LALU BERUSAHA

Ya Allah ketika kami berbaik sangka dengan orang lain, maka baikkanlah prasangka itu sesuai prasangka baik kami ya Allah, jauhkan dari ketidak sesuaian prasangka baik kami. (Mahmud Basuki)

Minggu, 10 Agustus 2025

Pola Pikir Ibu yang Melelahkan


Sebagai seorang anak perempuan, aku menyaksikan sendiri bagaimana pola pikir ibuku perlahan-lahan menghancurkan rumah tangga orang tuaku. Sejak kecil, aku melihat ayah selalu dituntut untuk kuat dan tidak boleh terlihat lelah. Setiap kali ayah menunjukkan kelelahan, ibu tidak pernah benar-benar berusaha memahami. Setiap kali ayah bercerita, tanggapan-tanggapan ibu tidak meneduhkan, sering memotong pembicaraan ayah, tanggapan yang tidak nyambung, dan justru ibu ingin menonjolkan kehebatannya sehingga mengarah menyudutkan ayah. Ayah justru dianggap lemah atau tidak mampu menghadapi kerasnya hidup. Ketika ayah memilih diam untuk menenangkan diri, ibu menyebutnya cuek dan tidak peduli. Padahal, ayah juga manusia yang bisa lelah dan membutuhkan pengertian serta pelukan, bukan penghakiman.

Aku juga melihat bagaimana hampir semua kekurangan dalam keluarga selalu berujung pada kesalahan ayah. Saat ada miskomunikasi yang bersumber dari keluarga ibu, emosi ibu tidak stabil, meluap-luap, ayah yang selalu disalahkan. Lama-kelamaan, ayah seperti kehilangan kepercayaan diri. Apa pun yang ia lakukan tidak pernah dianggap cukup, tidak pernah benar di mata ibu.

Ibuku lebih sering menuntut harus begini, harus begitu daripada menghargai usaha ayah. Yang ia lihat hanyalah apa yang belum ada, bukan perjuangan ayah yang setiap hari bekerja keras demi keluarga kami. Sedikit demi sedikit, aku melihat semangat ayah memudar. Ia tetap menjalankan tanggung jawabnya, tetapi tanpa gairah, seolah hanya bertahan.

Dalam setiap masalah, ibu selalu merasa dirinya paling berkorban dan paling lelah. Setiap perselisihan berubah menjadi adu penderitaan, seakan harus ditentukan siapa yang paling menderita. Padahal, pernikahan seharusnya menjadi kerja sama, bukan perlombaan tentang siapa yang paling banyak mengorbankan diri.

Ibuku juga menginginkan hasil yang serba cepat. Ia ingin hidup langsung nyaman dan stabil, tanpa mau memahami bahwa ayah sedang berjuang keras membangun fondasi keluarga. Ia lupa bahwa semua itu membutuhkan waktu dan tidak mungkin dicapai secara instan.

Akibat pola pikir seperti ini, rumah kami tampak tenang dari luar. Tidak banyak pertengkaran yang terdengar, tetapi aku merasakan kesunyian yang dalam. Ayah semakin jarang berbicara, bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu lelah untuk menjelaskan dan membela diri.

Ayah pernah bercerita kepadaku bahwa ibu pernah berkata, “Ayahku akan dituakan dalam keluarganya ibu” Kalimat yang terdengar sederhana itu nyatanya melukai mental ayah. Sebagai anak, aku melihat bagaimana ibu hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri tanpa menyadari beban yang ia letakkan di pundak ayah. Aku juga bisa merasakan kepedihan orang tua ayah, yang melihat anak laki-lakinya diperlakukan tidak selayaknya.

Pada akhirnya, aku menyadari bahwa yang lelah bukan hanya tubuh ayah, tetapi juga mental, perasaan, dan harga dirinya. Ayah tetap bekerja, tetap bertanggung jawab, dan tetap terlihat baik-baik saja. Namun, sebagai anak perempuan yang hidup di rumah itu, aku tahu bahwa di dalam kepalanya ayah sedang berjuang menahan lelah yang tidak pernah benar-benar usai—hingga akhirnya rumah tangga itu hancur tanpa aba-aba di depan mataku.

Ayahku bercerita, diawal-awal kehancuran rumah tangga, sungguh berat menjalaninya. Namun, kini ayah mengaku lebih tenang, mental ayah  lebih sehat dari sebelumnya. Ini memang bukan keinginan ayah, namun ini merupakan jalan Tuhan yang harus dilalui ayah, dan ternyata takdir Tuhan adalah sebaik-baik takdir untuk ayah.

Minggu, 03 Agustus 2025

Ibu Menyuruh, Ayah Dituduh

Saat itu, hidupku berubah tanpa aku benar-benar mengerti alasannya. Ayah baru saja mendapat tugas kerja di ujung Indonesia, tempat yang jauh dan asing bagiku saat itu.

Sebelum ayah berangkat, ibu mengajakku meninggalkan rumah tempat aku dibesarkan hingga umur empat tahun. Aku tidak mengerti mengapa kami harus pergi, saat itu tiba-tiba pamanku menjemput aku dan ibuku. Bagiku, itu seperti perjalanan yang menyenangkan. Tapi ternyata, semua sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh ibu dan pamanku tanpa sepengetahuan ayah. Saat itu, ayah masih di rumah, tanpa tahu bahwa istri dan anak yang begitu dicintainya akan pergi secara mengejutkan.

Belakangan aku baru tahu, alasan ibu menolak ikut bersama ayah bukan karena sikap ayah, tapi karena ia telah diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di kota tempat aku lahir dan tumbuh. Itu adalah mimpi lamanya, dan kesempatan itu datang bersamaan dengan tugas besar ayah di ujung Indonesia. Hati ibu pun terbagi — dan akhirnya ia memilih bertahan di kota ini tidak menemani ayahku.

Seminggu setelah kami pergi, ayah datang ke rumah nenek di mana kami tinggal. Ayah berharap bisa membawa kami kembali pulang, hidup bersama seperti dulu. Tapi kedatangannya disambut dingin. Nenek duduk di bangku dengan membawa sapu, suaranya tegas, “Saya tidak akan beri anakku dan cucuku ikut bersamamu!” Mendengar hal itu Ayah hanya terdiam. Ucapan itu seperti tembok tinggi di antara mereka. Hari itu, ayah pulang sendirian dengan penuh kekecewaan.

Beberapa hari kemudian, ayah benar-benar berangkat ke ujung Indonesia seorang diri. Sejak itu, aku kesulitan sekali bisa berbicara dengannya. Hanya beberapa kali kami sempat berkomunikasi lewat telepon. Suaranya terdengar jauh dan lemah, tapi setiap kali aku mendengarnya, hatiku terasa hangat, seolah ayah menenun jarak dengan kasih sayang yang tetap sama besarnya.

Sekitar sebulan kemudian, saat bulan Ramadhan, ayah datang lagi ke rumah nenek. Ia membawa sejumlah sembako dan baju-baju baru untukku. Ternyata, ibu sempat mengirim pesan WhatsApp kepada ayah, berisi syarat bahwa ayah boleh menjemputku jika aku benar-benar mau dengan keinginanku ikut bersama ayah dan benar-benar diurus oleh ayah bukan oleh keluarga ayah. Pesan yang singkat itu mengubah segalanya.

Ketika ayah datang, aku dikurung dalam kamar oleh nenek pihak ibu. Mungkin nenek takut aku akan ikut ayah. Tapi lalu, satu kebetulan kecil terjadi, nenek menelfon seorang laki-laki dan buru-buru keluar kamar tanpa mengunci pintu. Aku pelan-pelan membuka gagang pintu dan melangkah keluar. Di ruang teras, ayah berdiri diam. Matanya berkaca-kaca ketika melihatku menghampirinya. Ia berjongkok, memakaikan baju baru itu untukku sambil tersenyum, meski air matanya hampir jatuh. 

“Ayah,” kataku protes kecil, “bajunya nggak ada jilbabnya.”  

Ayah tertawa pelan dan mengusap kepalaku. Lalu ia mengajakku keluar, membeli es krim di warung dekat rumah nenek. Saat itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bahagia kembali. Setelah membeli es krim, kami lalu kembali ke rumah nenek pihak ibu, dan ayah mencoba berbicara dengan ibu agar bersama-sama ke toko baju untuk membeli jilbab untukku. Tapi ibu menolak. Akhirnya hanya aku dan ayah yang pergi ke toko baju. Di sana, kami video call ibu. Aku tersenyum ke layar, “Ibu, ayo pulang bareng ayah.” Tapi ibu lagi-lagi menolaknya.  


Aku menatap wajah ayah yang tetap berusaha tersenyum, meski matanya menyimpan luka yang mendalam. Saat itu juga aku tahu, aku tak mau lagi berpisah darinya. Hari itu kami pulang ke rumah keluarga, dan aku memeluk ayah erat-erat, memastikan kali ini aku tidak akan berpisah lagi dari ayah.

Namun tak lama setelah itu, surat dari pengadilan agama datang. Ternyata ibu telah mengajukan gugatan cerai. Semua sudah direncanakan jauh sebelum kedatangan ayah yang kedua kalinya. Aku terpukul. Dua minggu penuh aku dan ayah tinggal bersama di rumah, menunggu kedatangan ibu. Tapi ia tak pernah datang. Hanya kabar yang terus beredar tentang kabar bahwa ayah dituduh menculikku.

Hari ketika pengacara ibu datang ke rumah, semuanya menjadi kacau. Mereka berteriak, mendobrak pagar, dan memanggil warga melalui ketua RT. Mereka menuduh ayah sebagai penculik, sebagai pelaku pelarian anak. Semua itu terlalu rumit untuk kupahami, tapi yang aku tahu: ayah tidak bersalah.

Beberapa hari kemudian, kami pergi. Ayah membawaku jauh ke ujung Indonesia, ke tempat tugasnya yang dulu membuat kami berpisah. Kini, aku benar-benar hidup bersama ayah. Hanya kami berdua di sebuah kota jauh yang tak banyak mengenal kami. Awalnya terasa sepi, tapi perlahan aku terbiasa. Ayah sering menemaniku segala aktivitas, dan setiap malam kami berbicara tentang apa pun.

Kini, setelah semua itu berlalu, aku belajar bahwa rumah bukan soal tempat, tapi dimana ada kasih yang bertahan.Dan untukku, rumah itu ada di setiap langkah ayah yang tak pernah berhenti mencintaiku.

Sabtu, 26 Juli 2025

Menanti di Pelabuhan Sunyi: Jika Ingin Dinafkahi, Jangan Kabur dari Rumah

Di sebuah sudut perumahan yang sunyi, hiduplah sebuah keluarga kecil, seorang suami yang setia dan seorang istri yang baru saja dinyatakan lulus seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Suatu hari, tanpa sepengatahuan suaminya sebelumnya, sang istri membawa barang-barang berharga serta putri mereka yang berusia empat tahun, lalu meninggalkan rumah. Suaminya hanya bisa termenung, merasa tertelantarkan dan kehilangan.

Cerita berbalik ketika sang istri dengan air mata berlinang bercerita kepada orang-orang sekitar, hingga akhirnya tetangga mendengar bahwa ia tidak dinafkahi oleh suaminya, hidup dalam derita dan kesengsaraan. Padahal, kenyataannya ia pergi atas kemauan sendiri, meninggalkan kewajiban sebagai seorang istri. Perbuatan ini menimbulkan kontroversi; sebagian orang percaya ceritanya, sebagian lain menyadari ada kebenaran yang tersembunyi.

Dalam Islam, seorang istri tidak diperbolehkan meninggalkan suami tanpa izin atau alasan yang syar'i. Rasulullah SAW bersabda, “Hak suami atas isterinya adalah isteri tidak menghalangi permintaan suaminya sekalipun semasa berada di atas punggung unta, tidak berpuasa walaupun sehari kecuali dengan izinnya, kecuali puasa wajib. Jika dia tetap berbuat demikian, dia berdosa dan tidak diterima puasanya. Dia tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika dia berbuat demikian, maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali, sekalipun suaminya itu adalah orang yang alim.” (HR Abu Daud)

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 228, “Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” Ayat ini menunjukkan bahwa suami memiliki kedudukan tertentu dalam rumah tangga, di antaranya kewajiban istri untuk taat dan tidak meninggalkan rumah tanpa izin.

Ijma para ulama menegaskan bahwa meninggalkan suami tanpa sebab syar'i adalah perbuatan haram dan berdosa, yang membuka pintu bagi perceraian yang seringkali diinginkan setan. Rasulullah SAW juga memperingatkan, “Siapapun perempuan yang meminta talak kepada suaminya tanpa ada alasan maka haram baginya wewangian surga.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Kisah ini menggambarkan dinamika kehidupan rumah tangga dan ujian keimanan. Hak dan kewajiban dalam keluarga hanya dapat terjaga dengan niat yang tulus dan komunikasi penuh kejujuran. Tidak sepantasnya seorang istri meninggalkan rumah lalu menuduh suaminya tanpa bukti, sehingga menimbulkan prasangka buruk.

Ketika nafkah adalah hak, jangan nafkah itu terputus hanya karena kabur dari tanggung jawab istri. Rumah adalah tempat aman, di mana kasih dan kewajiban berpadu, bukan tempat pelarian dari kesulitan atau alasan yang semu.

Lebih dari itu, janganlah menghalalkan segala cara hanya untuk memuluskan keinginan diri sendiri. Karena perbuatan yang didasari oleh niat buruk dan kelicikan akan menjadi ladang dosa dan menghancurkan mahligai rumah tangga. Sesuai firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 42).

Jalan kebaikan dan kesabaran adalah kunci utama menjaga keharmonisan rumah tangga, bukan melarikan diri dan mencitrakan diri sebagai korban tanpa alasan yang jelas.

Kamis, 24 Juli 2025

Istri Ingkar, Suami Terlantar

Bab 1: Lima Tahun Penantian

Lima tahun. Lima tahun pernikahan Suami dan Istri terasa seperti lima episode uji kesabaran dalam penantian menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS). Lima tahun pula mereka menghabiskan waktu bersama di rumah sederhana di pinggiran ibu kota provinsi.

Suami, dengan kegigihan seorang pejuang, sudah empat kali mencoba peruntungan dalam seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Istri, ibu rumah tangga yang sehari-hari fokus mengurus putri mereka, Ainun, yang kini berusia empat tahun, yang selalu menjadi penghibur dalam rumah tangga mereka. Hasilnya selalu sama: belum rezeki.

"Kali ini, kita coba beda," kata Suami, suatu malam, matanya fokus menatap layar laptop yang menampilkan peta Indonesia. "Ada formasi bagus sekali di ujung Indonesia. Yang dapat ditempuh 3 hari dalam perjalan darat. Aku lihat peluangku besar sekali."

Istri mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Suami. "Sejauh itu, Mas?"

"Iya dek. Tapi ini the last shot kita, mengingat umurku yang hampir 35 tahun. Aku yakin kali ini bisa."

Mereka sepakat. Suami akan mendaftar formasi yang menjanjikan di Ujung Indonesia. Istri, setelah mencari-cari, tidak menemukan formasi yang relevan di sana.

"Ya sudah, aku daftar yang di kota kita saja, Mas," ujar Istri. "Sekadar formalitas. Kan Mas sudah janji, kalau Mas yang lolos, aku dan Ainun pasti ikut, di mana pun Mas ditugaskan. Pekerjaanku yang penting mengurus Mas dan Ainun."

Suami tersenyum lega. Janji itu, janji untuk saling mendukung dan mengutamakan keluarga di atas segalanya, adalah pondasi bagi mereka.

"Aku mengutamakan kamu, Mas. Kalau Mas lolos ke ujung sana, dan aku juga lolos di sini, aku akan mundur sukarela dari CPNS-ku. Kita harus utuh di sana, masa suami istri kok berjauh-jauhan. Tes CPNS-ku hanya untuk 'jaga-jaga' kalau Mas gagal lagi," ucap Istri kala itu, membuat hati Suami menghangat.

Bab 2: NIK dan Drama CPNS

Mereka mulai proses pendaftaran. Suami tidak ada kendala alias lancar-lancar saja. Namun, Istri terhambat dalam proses pendaftaran.

"Mas, NIK-ku tidak terdeteksi!" seru Istri panik.

Ternyata, ada masalah administrasi saat perpindahan alamat KTP Istri dari rumah orang tuanya ke alamat rumah mereka sekarang. NIK-nya belum terintegrasi sempurna dalam sistem data kependudukan.

Istri sudah pasrah, "Ya sudah, berarti memang tidak jodoh, Mas."

Tetapi Suami tidak mau menyerah. "Tidak bisa! Kamu sudah susah-susah menyiapkan berkas. Tunggu, aku urus ini."

Suami mengambil waktu untuk pengurusan ini. Ia menghubungi kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), menghubungi kenalan, bahkan sampai mencari tahu jalur online yang bisa mempercepat pembaruan data. Butuh dua hari penuh perjuangan, bolak-balik menelepon, dan menunggu.

"Alhamdulillah, dek. NIK-mu sudah bisa dipakai! Cepat submit!"

Istri kegirangan. Mereka akhirnya bisa menyelesaikan pendaftaran, impian itu kembali menyala, diperjuangkan bersama oleh Suami.

Hingga mereka telah melewati Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Dari hasil SKD, Istri sangat percaya diri jika dirinya akan lolos ke tahap selanjutnya, mengingat sebelum menikah, Istri pernah menjadi karyawan kontran di instansi yang dia tuju.

Istri terbilang cukup sering ke rumah keluarganya, dalam seminggu, bisa 2 kali atau 3 kali berkunjung ke rumah keluarganya.

Hingga suatu hari Suami pulang dari kerja, suami menjemput istri dan Ainun di rumah keluarga Istri. Sebelum pulang, seperti biasa, ada perbincangan di teras antara mereka.

"Mas, kata ummi (ibu Istri), orang-orang di Ujung Indonesia itu rasis-rasis"

Mendengar itu, suami hanya tersenyum tipis. Hingga pulang sampai di rumah mereka, suami mengkonfirmasi perihal ucapan ummi (ibu Istri).

"Apa maksud ummi berkata seperti itu?"

Dengan emosi, Istri menyampaikan pembelaannya kepada ummi nya hingga berujung perang argumen. Namun, hal itu berangsur reda dengan cepat. Suami pun tidak memiliki firasat buruk apapun terhadap Istri.

Kurang lebih 2 bulan berjalan, mereka mengikuti tes lanjutan yaitu Seleksi Kompetensi Bidang.


Bab 3: Pengumuman yang Memicu Badai

Minggu demi minggu berlalu, dibalut dengan rutinitas harian. Suami tidak pernah absen mengecek portal pengumuman CPNS, bukan hanya untuk formasi dirinya, tetapi juga untuk formasi Istrinya di kota mereka.

Suatu sore, saat Suami sedang menyeduh kopi, matanya terpaku pada layar.

"Dek! Lihat ini!"

Istri berlari dari dapur. "Ada apa, Mas?"

"Kamu... kamu lolos! Kamu lolos seleksi akhir CPNS!"

Wajah Rina memerah, matanya berkaca-kaca, memancarkan kegembiraan murni. "Ya Allah, Mas! Lolos? Aku lolos?". Bagi Suami, kelolosan Istri adalah kabar gembira, meski ia tahu Istri akan segera mengundurkan diri sesuai janji.

Namun, pengumuman Suami tak kunjung tiba.

"Sabar, Mas. Giliran Mas pasti datang," hibur Istri, kini berstatus 'calon PNS' di kota tempat mereka tinggal.

Dan hari itu pun tiba. Pengumuman CPNS formasi Suami diumumkan. Nama Suami terpampang jelas. Lolos!

"Kita berhasil! Aku lolos! Oh ujung Indonesia, kita datang!" Hatinya penuh dengan rencana masa depan.

Suami mulai mempersiapkan segalanya. Informasi kontrakan di Ujung Indonesia, perjalanan ke sana. Semuanya Suami pelajari dengan semangat. Mereka akan memulai hidup baru, keluarga kecilnya akan utuh di ujung Indonesia.

Bab 4: Konspirasi di Balik Senyum

Di balik senyum Istri, ternyata ada angin dingin berembus. Keluarga besar Istri, terutama orang tuanya, mulai melancarkan intervensi. Yang sebenarnya, jika Suami Peka, sejak kelolosan tes Seleksi Kompetensi Dasar Istri, sudah ada tanda-tandanya. Namun, begitulah, pikiran prasangka baik memang sangat tipis dengan sebuah kebodohan.

"Buat apa ikut sejauh itu? Gaji PNS di sini sudah cukup. Kamu bisa mandiri, Nak. Jangan cuma jadi bayang-bayang suami. Kariermu lebih penting!" desak ibunya saat Istri berada di rumah Ibunya.

Istri mulai bimbang. Janjinya mulai pudar tertutup ambisi yang dihembuskan keluarganya.

Suatu hari, Istri mengajak Suami menemui seorang Ustaz yang dikenalnya.

"Ustaz, bagaimana hukumnya jika seorang istri tidak ikut suami yang pindah tugas jauh karena alasan karier yang baru didapat?" tanya Istri, nadanya terdengar polos, tetapi matanya menghindari tatapan Suami.

Ustaz tersebut, setelah mendengarkan sekilas, memberikan jawaban yang netral.

Pulang dari sana, Istri mulai berani berpendapat.

"Mas, aku sudah lolos CPNS di sini. Aku akan tetap ambil formasi ini. Aku tidak bisa ikut ke Ujung Indonesia," ujar Istri, kalimat itu dingin menampar wajah Suami.

Suami terkejut, amarahnya tertahan di ujung tenggorokan. "Dek, apa maksudmu? Kita sudah sepakat! Anak dan istri adalah tanggung jawabku. Kamu akan ikut. Janjimu bagaimana? Kamu bilang ini hanya untuk berjaga-jaga!"

"Kondisinya berubah, Mas. Aku lolos! Lagipula, siapa yang akan mengurus orang tuaku di sini? Aku bisa mandiri, Mas."

"Mandiri? Sejauh ini aku yang urus NIK-mu agar kamu bisa daftar! Mandiri itu bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Aku tidak merestui kamu jika kamu tidak ikut aku ke Ujung Indonesia!" tegas Suami, matanya memancarkan kekecewaan mendalam.

Bab 5: Pengkhianatan di Layar Gawai

Malam-malam berikutnya dilalui dalam ketegangan yang mencekik. Mereka tidur di ranjang yang sama, tetapi terpisah oleh jurang pengkhianatan.

Di Sore hari, Istri sedang di dapur bersama Ainun. Ponselnya berbunyi, notifikasi dari chat keluarga. Entah dorongan apa, Suami mengambil ponsel itu.

Jantungnya seakan berhenti berdetak saat membaca percakapan itu.

***

Jika dinovelkan kurang lebihnya percakapannya sebagai berikut:

Adik Ipar: Pokoknya besok langsung urus pemberkasan ya, Kak. Jangan dengarkan si Suamimu itu! Kakak itu berhak bahagia dan punya karier sendiri.

Istri: Iya, besok aku izin ke Mas Suami urus berkas, aku siapkan semuanya. Aku sudah bilang ke Ibu, aku tidak akan ikut Suami. Biar saja dia sendirian di sana. Gaji PNS-ku pasti cukup. Surat pengunduran diri itu tidak ada di kamusku.

Ibu Mertua: Bagus, Nak. Jadi kamu harus mengutamakan dirimu. Kami sudah siapkan skenarionya.

***

Suami merasakan mual. Skema jahat. Kebohongan yang tersusun rapi. Ia yang mati-matian memperjuangkan pendaftaran Istri, kini dikhianati dan difitnah.

Keesokan harinya, Suami menemui Ustaz Fulan yang sempat mereka datangi.

"Ustaz, saya datang untuk curhat. Istri saya lolos CPNS di sini, sementara saya lolos di Ujung Indonesia. Dia tidak mau ikut, padahal kami sudah janji... Andai Istri tidak lolos, pasti akan ikut, sungguh licik"

"Kemarin saat bersama-sama datang, sebenarnya hanya bentuk legitimasi Istrimu" kata ustaz.

---

Bab 6: Koper dan Rumah yang Hampa

Istri berpamitan dengan senyum manis yang dipaksakan. "Mas, aku izin ke rumah Ibu dulu, ya. Mau urus berkas CPNS-ku."

Suami berinisiatif menelfon ibu kandungnya, untuk membujuk Istri, agar tidak meninggalkan rumah. Ada sebuah percakapan, namun tidak menggugurkan niat Istri pergi dari rumah.

Tidak berselang lama, adik istri datang untuk menjemput. Suami tidak dapat menghalangi, karena karakter istri yang jika memiliki keinginan, tidak dapat digoyahkan.

Ainun, yang masih berumur empat tahun, berlarian dan menuju ke dalam mobil. Sang anak justru riang gembira dengan polosnya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Suami terlantar sendirian.

Rumah itu terasa sunyi, dingin, dan hampa dalam sekejap.

Esok harinya, Suami masuk ke kamar. Ia menyiapkan berkas-berkas penting yang harus ia bawa ke Ujung Indonesia. Ternyata berkas-berkas penting seperti buku nikah, dan barang-barang berharga lainnya ikut diangkut oleh Istri.

Suami tersadar. Istri tidak hanya membawa ambisinya. Ia membawa pergi dokumen-dokumen penting pernikahan mereka. Istri telah merencanakan ini semua, tidak hanya mengkhianati janji, tetapi juga mengosongkan rumah dan membawa pergi bukti sah ikatan mereka.

Di rumah yang kini sepi, Suami hanya bisa duduk di tepi ranjang. Suara tawa Ainun yang masih terngiang, dan janji Istri yang kini terasa seperti racun. Sang suami yang akan berjuang di ujung Indonesia, kini benar-benar terlantar, ditinggalkan oleh istri yang ingkar janji dan anak yang dibawa pergi Istri.